Analisis Kerjasama Crab dan Uber
Uber merupakan
perusahaan rintisan dan perusahaan jaringan transportasi asal San Francisco, California, yang menciptakan aplikasi mobile penyedia transportasi yang menghubungkan penumpang
dengan sopir kendaraan sewaan serta layanan tumpangan.Uber mulai beroperasi di
Indonesia sejak pertengahan tahun 2014. Sejak kemunculannya banyak timbul kontroversi
mengenai aspek perpajakan Uber karena Uber sendiri merupakan aplikasi berbasis teknologi
sehingga terdapat perdebatan apakah Uber harus membayar pajak atau tidak baik oleh
perusahaan Uber sendiri yang berbasis di Amerika maupun olehpengemudi Uber.
Perusahaan penyedia teknologi penyedia jasa transportasi daring Uber resmi
diakuisisi kompetitornya yaitu Grab pada tanggal 26 Maret 2018. Melalui
kesepakatan tersebut, semua aset serta pangsa pasar Uber yang ada di Asia
Tenggara akan dikuasai Grab dan menjadikannya sebagai pemain di bisnis
transportasi daring terbesar untuk kawasan tersebut. Sebagai bagian dari
akusisi, Uber akan memiliki 27,5 persen saham di Grab dan Dara Khosrowshahi
selaku CEO Uber akan bergabung dengan dewan direksi Grab. Pada sisi teknis,
semua aset dan aspek operasional Uber di negara tempat mereka beroperasi
sebelumnya untuk kawasan Asia Tenggara akan dialihkan ke Grab. Negara yang
dimaksud adalah Kamboja, Indonesia, Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura,
Thailand, dan Vietnam. Dalam waktu dekat, Grab dan Uber akan bekerja sama untuk
migrasi mitra pengemudi, penumpang, pelanggan, rekanan pengantaran, hingga
merchant yang ada di aplikasi Uber ke aplikasi Grab.
Aplikasi Uber sementara masih beroperasi hingga dua pekan ke depan dan pihak
Grab menyertakan informasi lebih lanjut untuk keberlangsungan status mitra Uber
yang akan pindah ke Grab melalui laman www. grab.com/id/comingtogether. Tahun
depan, Uber berencana untuk melantai di bursa alias melakukan penawaran umum
perdana (initial public offering/IPO). Oleh karena itu, Uber membenahi sektor
bisnisnya dengan fokus pada kawasan yang berkinerja baik saja. Sebelumnya, Uber
juga telah menjual kepemilikan sahamnya di China kepada Didi Chuxing, sebuah
perusahaan teknologi penyedia jasa transportasi. Uber pun tercatat menjual
bisnisnya kepada perusahaan teknologi asal Rusia, Yandex. Khosrowshahi pernah
mengungkapkan, dengan menarik diri dari pasar di Asia Tenggara, Uber dapat
meningkatkan profit mereka dari yang sebelumnya merugi hingga 10,7 miliar dolar
AS selama sembilan tahun terakhir. Khosrowshahi juga memberi sinyal kemungkinan
Uber akan fokus pada Jepang dan India untuk pasar di Asia.
Kesimpulan :
Kesimpulan :
Berdasarkan hasil analisis tersebut dapat
diketahui bahwa Crab dan Uber termasuk kerjasama Akuisi.
Akuisisi merupakan cara pengembangan perusahaan yang sudah ada atau
menyelamatkan perusahaan yang sedang mengalami kesulitan dana. Dengan kata
lain, akuisisi adalah menerima, memperoleh, menguasai perusahaan
lain, atau tindakan pengambilalihan (take over) kepemilikan suatu
perusahaan melalui pembelian saham suatu perusahaan sehingga perusahaan
pengakuisisi memiliki suara mayoritas. Dalam hal ini Crab mengambil alih semua
semua pangsa pasar di Asia Tenggara karena pemasarannya kurang dan
menjadikannya usaha transportasi.
Sumber :
https://www.scribd.com/document/355150426/Analisis-Perpajakan-UBER-Dan-GOJEK,
(Diakses 18 April 2018)
Poetra, Adrian Donnal. 2018. Grab Akuisisi Uber, Ini Dampaknya bagi
Penumpang dan Mitra Pengemudi, https://ekonomi.kompas.com (Diakses 18
April 2018)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar